Berani Tampil Beda, Bupati Purwakarta Bangun Purwakarta Berbasis Keunikan Budaya

PURWAKARTA (PIYUNGANONLINE) - Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, punya gagasan unik tentang pembangunan Kabupaten Purwakarta.  Dedi menyadari bahwa Purwakarta hanya merupakan kabupaten kecil yang mayoritas wilayahnya merupakan pedesaan, pegunungan, danau dan sawah. Sehingga pola pembangunan yang perlu dilaksanakan berbeda dengan wilayah lain.

"Pola pembangunannya berbeda, kita ada basic pola culture (budaya) yaitu yang menjadi, ciri khas masyarakat kabupaten, tetapi kita juga ada basic urban yaitu industri sehingga karakter urban dan culture tradisional itu sgt kuat," kata dia.

"Sehingga pemimpinnya harus bisa membaca kedua fenomena itu, menjadi satu kesatuan yang utuh bagaimana membangun kabupaten yang basic culture-nya kuat tetapi tidak kehilangan nilai-nilai kekinian," sambungnya.

Dedi menyampaikan, penting bagi daerah kabupaten seperti Purwakarta untuk terus mempertahankan nilai-nilai kebudayaan dengan tetap mengikuti aspek-aspek modern untuk menjaga produktivitas publik mereka.

Dirinya membagi empat segmentasi yang bisa menjadi budaya dari suatu daerah,yakni bahasa, makanan, pakaian dan seni. Untuk aspek kekinian sendiri yang dia maksud ialah bagaimana mereka mampu melakukan pengelolaan terhadap nilai-nilai perubahan yang begitu cepat.

"Dihubungkan dengan pertumbuhan kebutuhan masyarakat yang bersifat teknologi. Kan itu kekinian sebenarnya. Nah teknologi itu jangan sekadar penggunaan perangkat teknologi."

"Bangsa jadul kan bangsa konsumen, artinya kan perlu mengaplikasikan menjadi kekuatan ekonomi yang kuat, sehingga basic culture itu mendapat sokongan, aplikasi dari kekinian. Sehingga orang culture mampu berkompetisi dalam sebuah paradigma masyarakat yang bersifat global," jelasnya.

Pria kelahiran 11 April 1971 ini juga menerangkan, Jepang menjadi salah satu negara yang mampu mempertahankan budaya tradisionalnya di tengah-tengah kemajuan teknologi. Bahkan, negeri Sakura itu mampu menjadi andil dalam kemajuan teknologi tanpa menghilangkan kearifan lokalnya.

Kini, untuk mewujudkan cita-citanya membangun Purwakarta sebagai kabupaten yang berbudaya dan kekinian. Dedi pun memasukkan berbagai unsur kebudayaan ke dalam berbagai aspek kegiatan.

"Saya merubah bagaimana birokrasi menjadi culture, arsitektur menjadi culture, bagaimana kantor pemerintah orang serba kaku dan teknis menjadi ada kandang ayam, burung, tanaman hias menjadi culture ternyata kan bisa," terangnya.

Ia juga sudah menekankan kepada jajarannya untuk tetap mengedepankan pelayanan meski kehadiran teknologi yang kekinian sudah mereka terapkan dalam sistem pemerintahan yang dijalankannya.

"Kita dorong perubahan era kita untuk pelayanan publik. Tetapi pelayanan publik kan bukan sekadar ngaku digital tapi fungsi peran enggak ada, kita kan banyak digital ini, digital ini, tapi fungsi pelayanannya enggak ada."

"Saya menekankan digital pada kemudahan publik untuk membuat akses pelayanan kepada masyarakatnya. Itu yang harus dilakukan, sehingga digitalisasi bukan tren tetapi digitalisasi adalah efisiensi pengelolaan keuangan, pemerintahan," pungkasnya.

Sumber: Merdeka.com

Kategori: