Darurat Paham Radikal, Keluarga Harus Jadi Penangkal

Saya punya teman yang cukup dekat dan sudah dianggap keluarga sendiri. Sejak ibunya meninggal, ia pindah ke kota lain sehingga kami jarang bertatap muka. Beberapa tahun kemudian, kabar kurang baik mengangetkan saya: teman saya tersebut di-drop out oleh kampusnya gara-gara tidak aktif mengikuti perkuliahan. Nilainya pun di bawah rata-rata. Menurut ayahnya, ia sering mengikuti pengajian kelompok tertentu hingga ke luar negeri, seperti Malaysia, Thailand (Pattani), dan Pakistan. 

Ia juga kerap mengisi kajian di komunitasnya tentang pentingnya paham khilafah. Sungguh ironis, alih-alih belajar Islam untuk mempertebal iman, malah membuat pendidikannya berantakan. Padahal, ia termasuk anak cerdas dan pintar. Ia diterima di kampus negeri terbaik di Surabaya dengan beasiswa penuh. Ayahnya tak bisa berbuat apa-apa, nasihat yang diberikan dianggap omong kosong belaka. Ia rupanya lebih patuh pada guru spritualnya (murabbi) dari pada orangtuanya.

Kasus pelajar atau mahasiswa yang tiba-tiba berubah secara perilaku dan ideologi karena bergabung dengan kelompok tertentu tidak hanya terjadi pada segelintir orang, tapi saat ini sudah seperti virus yang siap menjangikiti siapapun, dari level terendah sampai yang paling akut. 

Level terendah seperti menyalahkan pendapat atau ideologi yang berseberangan dengan pemahamannya, sedang level akut menganggap semua orang di luar kelompoknya adalah kafir (melenceng dari ajaran Islam), baik itu sesama muslim ataupun apalagi non-muslim. Dalam situasi ini, si anak bisa dengan mudah di-baiat untuk mengikuti kehendak guru spritualnya bahkan jika harus mengorbankan diri baik harta maupun nyawa. Mereka yakin perbuatan semacam itu adalah jihad. 

Lalu siapa yang disalahkan atas menjamurnya Islam radikal belakangan ini? Pemerintah, guru, orangtua, atau tokoh agama? Jawabannya tidak boleh saling menyalahkan. Semua elemen harus mencari jalan untuk mencegah radikalisme yang berkembang, dan yang paling berperan adalah orangtua si anak sendiri.

Ya, orangtua adalah benteng dan penangkal terdepan segala pemikiran yang datang dari luar. Orangtua harus menjalin komunikasi yang baik dan transparan. Menurut Scaefer dalam buku Penelitian Psikologi karya Saughnessy J.J, anak yang dekat dengan orangtua akan terhindar dari pemahaman dan perilaku yang menyimpang. Hubungan antaranggota keluarga, baik dengan ayah-ibu dan saudara, harus terjalin harmonis. 

Dalam kasus teman saya, sejak ibunya meninggal maka ia tidak menemukan lagi tempat bersandar dan tempat curhat yang paling nyaman. Di rumah ia kurang dekat dengan ibu tirinya, sehingga ia lebih memilih kegiatan di luar. Mungkin ia mengira semua kegiatan dan organisasi keagamaan itu baik, tapi yang terjadi sebaliknya. 

Memang kedekatan dengan keluarga dan minimnya pengaruh paham radikal tidak selalu berbanding lurus. Ada beberapa kasus anak yang dibesarkan dengan keluarga yang rukun tetap terpengaruh. Dalam hal ini lagi-lagi peran orangtua sangatlah penting. Orangtua harus mendidik anak sejak dini tentang pemahaman agama yang baik, perlunya toleransi, kebhinnekaan, bahkan kebangsaan.

Kalau mau jujur sebenarnya rata-rata orangtua di Indonesia kurang memberikan pemahaman toleransi beragama sejak dini, terlebih orangtua yang tinggal dalam lingkungan penduduk yang homogen. Keluarga saya, misalnya. Saya dibesarkan di Madura, yang penduduknya mayoritas Islam, di sekolah pun hampir semuanya muslim. Keluarga juga sangat disiplin menjalankan ibadah dan norma-norma agama. Tapi, ketika berhadapan dengan non-muslim saya seolah terlempar dari nilai toleransi. 

Ayah saya kebetulan punya teman baik seorang pendeta dan sering berkunjung ke rumah dengan membawa cukup banyak oleh-oleh. Ibu saya kemudian berkomentar "Duh, si Bapak anu baik banget, tapi sayang Kristen, coba kalau muslim." Terus saya bertanya, "Emang kenapa kalau Kristen, Bu?" Ibu saya menjawab, "Orang Kristen tidak akan mendapat syafaat Nabi Muhammad di akhirat nanti. Syafaat Nabi hanya diberikan pada orang Islam." 

Jawaban itu terus saya ingat hingga secara tidak langsung menjadi stigma negatif. Saya lalu menganggap semua non-muslim tidak akan masuk surga meskipun ia berbuat kebajikan, dan sebaliknya semua muslim akan diampuni dosanya seberat apapun karena mendapat syafaat Rasulullah. Beruntung stigma itu berhasil saya buang ketika kemudian saya kuliah di luar negeri. 

Saya bergaul dengan banyak teman dari berbagai bangsa, negara, dan latar belakang yang berbeda. Saya juga mempelajari buku-buku bahasa Arab klasik yang ditulis oleh cendekiawan muslim abad pertengahan. Dosen-dosen yang mengajari saya datang dari berbagai negara sangat intens menyuarakan arti perbedaan. 

Pandangan saya tentang muslim dan non-muslim pun berubah. Saya tak pernah lagi mempersoalkan agama. Bagi saya agama adalah ranah private seseorang yang harus kita hormati. Saya tak pernah memikirkan dosa atau tidak dosa bagi penganut non-Islam karena hal itu adalah rahasia Tuhan. Bagi saya, orang baik apapun agamanya patut dihargai. 

Terlebih sekarang saya tidak tinggal di Madura, melainkan di sebuah kota yang penduduknya heterogen. Bahkan hanya segelintir tetangga yang muslim, sisanya non-muslim. Ini juga yang meneguhkan saya bahwa kelak anak saya harus diajari hidup bertoleransi sejak dini. 

Selain masalah agama, isu ras pun masih sensitif di negeri ini. Ganyang China, China-kafir adalah slogan yang paling sering diteriakkan oleh kelompok berpaham radikal. Kerukunan umat yang terjalin berabad lamanya seolah hilang karena perbedaan ras. Sampai hari ini isu SARA masih menjadi bahan pemberitaan yang cukup panas, terlebih ketika dimulainya Pilkada Jakarta beberapa waktu silam. Kelompok radikal yang biasanya hanya berani di mimbar kemudian turun ke lapangan. 

Demikian pula kelompok berpaham radikal lain secara terang-terangan memproklamasikan diri menjadi ormas pengusung khilafah. Saya cukup merasa lega ketika kemudian pemerintah berencana membubarkan ormas tersebut. Tapi apakah dengan dibubarkannya ormas kemudian masalah selesai? Tidak! Mereka yang telah dikader apalagi di-baiat (disumpah) akan terus menyebarkan pemahaman tersebut. Dari masjid, sekolah, kantor, hingga lingkungan sosial. 

Dan, sekali lagi orangtualah yang harus menjadi benteng utama penangkal virus radikal tersebut. Menurut saya ada beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua pada anak untuk menangkal paham radikal dan menumbuhkan sikap toleransi. Pertama, komunikasi terbuka; orangtua dan anak harus menjalin komunikasi terbuka. Pancing anak untuk mau berterus terang dan curhat atas semua kejadian kurang menyenangkan yang dialaminya. 

Jangan sampai kesibukan orangtua membuat anak lebih nyaman berinteraksi dengan kelompok radikal, sebab dalam menjaring anggotanya, kelompok ini melakukan pendekatan secara personal. Setelah yang bersangkutan menjadi akrab kemudian diajak ikut kajian. Dalam kajian rutin itulah secara perlahan akan dicuci otak untuk selanjutnya diambil sumpahnya agar tetap setia menjadi anggota kelompok tersebut.

Selain komunikasi yang lancar, orangtua harus menghargai dan dukung potensi yang dimiliki anak agar ia merasa dihargai. Arahkan anak untuk mengikuti kegiatan ataupun kursus yang sesuai dengan minat dan bakatnya.

Kedua, menjaga keharmonisan keluarga. Komunikasi akan terjalin jika hubungan antarkeluarga harmonis sehingga anak tidak akan 'lari' dari rumah untuk mencari ketenangan batin. Salah satu cara menjalin keharmonisan dengan ibadah dan melakukan aktivitas sehari-hari bersama. Misalnya makan, membersihkan rumah, nonton TV, dan sebagainya. 

Ketiga, mengajarkan anak keberagaman. Ini harus diajarkan sejak dini pada anak. Orangtua bisa memulai dari hal sederhana, misalnya mencoba makanan yang berbeda dari daerah asal, memperkenalkan tarian dan pakaian adat daerah lain, memberikan bacaan yang beragam, atau menghadiri acara kebudayaan bersama keluarga. 

Jika orangtua punya tabungan, ajak anak ke luar kota atau sesekali ke luar negeri agar si anak bisa mengetahui beragam etnis, budaya, dan karakter bangsa lain. Dengan begitu anak tidak mudah men-judge orang lain negatif dan menganggap diri sendiri dan kelompoknya paling baik.

Keempat, membantu orang yang tidak mampu. Ini bisa membuat anak lebih simpati pada sesama. Orangtua dalam hal ini harus memberikan pemahaman bahwa penerima bantuan tidak boleh memandang agama atau ras. Beri penjelasan dalam pembagian zakat pun tidak ada syarat harus seagama. Jadi ketika ia sudah besar, ia akan mengasihi sesama dan tak akan memandang bulu apapun ras dan agamanya. 

Kelima, memberi pemahaman agama yang memadai. Orangtua harus memberi pemahaman agama yang baik sedini mungkin. Misalnya jika anak malas salat atau puasa jangan memarahi anak dengan mengatakan, "Nanti kamu masuk neraka lho" dan ancaman lainnya. 

Orangtua harus mengenalkan agama dari sudut kasih sayang. Beritahu anak jika Tuhan lebih sayang pada anak yang rajin ibadah, patuh pada orangtua, dan sayang pada saudara. Ceritakan juga sejarah dan sifat-sifat penyayang Nabi. Jika sudah agak besar, beritahu bahwa belajar, patuh pada orangtua, dan membantu pada sesama termasuk bentuk jihad. 

Keenam, memantau pertemanan dan media sosial anak tanpa mengganggu privasinya. Teknologi mempunyai peranan penting dalam mengubah ideologi seseorang. Jika setiap hari ia membaca postingan tentang radikalisme agama, jihad, perang, dan sebagainya, lambat laun ia akan terpengaruh. 

Untuk mencegah hal itu terjadi orangtua harus memantau apa yang dibaca, diunggah, dan di-share, tanpa mengganggu privasinya. Orangtua tak boleh sering komentar di media sosial anaknya sebab ia akan merasa orangtuanya tak percaya pada semua hal yang ia lakukan. 

Terakhir, menjadi orangtua yang baik bukan hanya dengan cara mencarikan sekolah dan pendidikan terbaik lantas menyerahkan tanggung jawab seluruhnya pada guru, ustadz, atau kiainya. Tidak, orangtua harus memantau perkembangan pendidikan anak-anaknya, organisasi yang diikutinya, buku-buku bacaannya. Jangan sampai di kemudian hari kita menyesal ada anak atau anggota keluarga yang terjerumus begitu jauh pada paham-paham radikal, terlibat teror bom bunuh diri, atau dikejar-kejar Densus 88. 

Anisatul Fadhilah penulis lepas

Kategori: