Hati-Hati Dengan NATAL Biar Tidak Sesat

Setiap tahun seakan menjadi tradisi bagi umat Islam meramaikan NATAL dengan berbagai pemahamannya, tentu saja ini sah menurut keyakinannya, sebab bila Natal tidak diributkan nanti akan merusak akidah umat yang imannya masih dangkal, Jadi umat Islam yang imannya tipis harus hati-hati dengan Natal. Paling tidak akun Facebook bernama Muhammad Zazuli memberikan pengertian Natal menurut jalan Wikipedia dan rangkuman dari sumber yang ia dapati saja.

Muhammad Zazuli menuturkannya begini agar umat Islam lebih berhati-hati lagi dalam menghadapi serbuan Natal setiap bulan Desember ini.

Kata "Natal" berasal dari bahasa Latin yang berarti "lahir", yang dalam agama Kristen dianggap merupakan hari kelahiran Yesus. Perayaan Natal baru dimulai pada sekitar tahun 200 M di Aleksandria (Mesir). Para teolog Mesir menunjuk tanggal 20 Mei tetapi ada pula pada 19 atau 20 April. Di tempat-tempat lain perayaan dilakukan pada tangal 5 atau 6 Januari, ada pula pada bulan Desember. Perayaan pada tanggal 25 Desember dimulai pada tahun 221 oleh Sextus Julius Africanus, dan baru diterima secara luas pada abad ke-5. Di jaman Romawi kuno ada berbagai perayaan keagamaan dalam masyarakat non-Kristen yang juga dilakukan pada bulan Desember.

Dewasa ini umum diterima bahwa perayaan Natal pada tanggal 25 Desember adalah penerimaan ke dalam gereja tradisi perayaan non-Kristen terhadap dewa matahari Solar Invictus (Surya Yang Tak Terkalahkan) atau Saturnalia Celebrate dengan menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Sang Surya Agung itu sesuai Alkitab (Maleakhi 4:2; Lukas 1:78; Kidung Agung 6:10). Menghubungkan Yesus dengan simbolisme Matahari didukung oleh berbagai bagian dalam Alkitab. Yesus dianggap sebagai "Matahari Kebenaran" yang dinubuatkan oleh Maleakhi: "Sampai kapan matahari terbit kebenaran dan kesembuhan ada di sayapnya." Sedang Yohanes menggambarkan Yesus sebagai "terang dunia."

Meskipun bulan dan tanggal kelahiran Yesus tidak diketahui, pada awal abad ke-4 Gereja Kristen Barat telah menempatkan Natal pada tanggal 25 Desember. Saat ini, kebanyakan orang Kristen merayakannya pada tanggal 25 Desember di kalender Gregorian, yang telah diadopsi hampir secara universal dalam kalender sipil yang digunakan di negara-negara di seluruh dunia. Namun, beberapa Gereja Kristen Timur merayakan Natal pada tanggal 25 Desember versi kalender Julian yang lebih tua, yang saat ini sesuai dengan tanggal 7 Januari di kalender Gregorian, sehari setelah Gereja Kristen Barat merayakan Epiphany. Ini bukan perselisihan mengenai tanggal Natal, tapi lebih pada preferensi kalender mana yang harus digunakan untuk menentukan 25 Desember.

Ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi pilihan tanggal ini. Tanggal 25 Desember adalah tanggal yang ditandai oleh orang Romawi sebagai titik balik matahari musim dingin (winter solstice), hari pertama di mana hari-hari akan terasa lebih panjang dan Matahari akan lebih lama tampak di langit. Yesus diidentikkan dengan Matahari berdasarkan Perjanjian Lama. Selain itu bangsa Romawi Kuno memiliki serangkaian festival pagan menjelang akhir tahun, dan Natal mungkin telah dijadwalkan pada saat itu untuk menyesuaikan diri, atau bersaing dengan, satu atau lebih dari festival pagan ini.

Kebanyakan umat Kristen sekarang tidak mempermasalahkan soal tanggal ini karena menurut mereka yang terpenting adalah makna dari peringatan tersebut. Saat merayakan Natal sebenarnya umat Kristen tidak sedang merayakan sejarah kelahiran Kristus saja melainkan juga menjadi momen untuk mengingat kembali pesan terpenting dari ajaran Kristus yaitu : KASIH.

Saat ini dalam hal perayaan Natal saya kira tidak ada pendeta yang mengatakan bahwa perayaan Natal adalah sesat meskipun mereka tahu di masa lalu perayaan ini ada hubungannya dengan tradisi pagan. Berbeda dengan umat muslim yang masih terpecah belah dalam hal perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad. Meskipun catatan tanggal, bulan dan tahun kelahiran Nabi Muhammad terdokumentasi dengan baik dan jelas namun masih ada banyak ustadz yang mengajarkan bahwa Maulidan adalah bidah karena tidak diajarkan oleh Nabi Muhammad sendiri.

Salam Damai

Kategori: