Keluhuran Nilai Toleransi Sumut Terancam

Oleh Birgaldo Sinaga

Bagi penduduk asli Sumut sejarah panjang penghargaan atas nilai budaya dari masing masing etnis, kepercayaan dan agama sudah berlangsung jauh sebelum republik Indonesia berdiri.

Para leluhur nenek moyang orang Sumut hidup damai berdampingan dengan sistem kekerabatan yang kental saling tolong menolong dan menghargai.

Tidak heran dalam pesta perkawinan sesama kerabat berbeda agama pasti terlihat guyub, adem dan damai. Bukan hal asing dalam acara adat para kerabat bersatu dalam pesta perkawinan saling memberi doa restu dgn hidangan makanan yang terhidang macam macam. Ada babi, ayam, sapi, kambing, ikan semuanya baik baik saja.

Masa saya kecil dan sekolah di Kota Medan kehidupan saling toleransi dan saling menjaga itu menjadi nilai keseharian setiap orang. Persaudaraan dan persatuan benar benar kuat. Saya punya kawan dari semua suku bangsa. Ada orang Melayu Deli, Sikh Tamil, China, Jawa, Padang, Batak, Karo, Mandailing dlsb. Komplet semua suku ada di Medan.

Kabupaten Deli Serdang berbatasan dengan Medan. Ibarat Jakarta Bekasilah. Dulu ada kesebelasan divisi utama dari Deli Serdang PSDS. PSDS itu adiknya PSMS Medan. Keduanya membanggakan orang Sumut. Kalo PSDS menang, orang Medan senang, Kalo PSMS menang orang Deli Serdang senang. Medan dan Deli Serdang itu bagaikan pinang dibelah dua. Kakak beradik.

Penduduk Deli Serdang hampir sama juga dengan Medan. Ada Melayu Deli, Batak, Karo, Padang, Jawa dlsb. Tatanan pergaulan masyarakatnya juga harmonis dan kaya akan nilai nilai budaya gotong royong. Tidak ada sekat sekat pengkotak kotakkan atas agama, suku, golongan atau ras.

Ekslusivitas adalah barang aneh di sana. Orang orang ekslusiv malah tidak punya tempat di pergaulan masyarakat. Pokoknya tinggal di Sumut nilai nilai Pancasila hidup utuh lestari.

Kini kota kelahiranku semakin berubah. Kota yang didambakan manusia segala bangsa karena nilai nilai kemanusiaannya berubah menjadi kota menakutkan. Bibit bibit kebencian dan permusuhan mulai tampak. Suara suara sumbang aku, mereka, kamu dan kami mulai mengkristal dalam benak orang orang.

Entah darimana benda dan ideologi ini datang. Tapi saat mahasiswa sebenarnya saya sudah mencium gejala ini. Kampus kampus sdh mulai berkelompok kelompok. Kawan yang dulu bisa makan di kantin cekikikan bersama sama mulai berpindah haluan. Menarik diri dari pergaulan. Sibuk dengan kegiatan agama. No smile anymore. Wajahnya berubah keras dan kaku.

Perubahan konsensus kearifan budaya leluhur yang saling menghargai perlahan kehilangan pengaruh. Pengaruh gerakan ideologi agama garis keras mulai menyusup ke sendi sendi kehidupan masyarakat.

Di pelosok pelosok desa dan kampung kelompok garis keras ini mulai mengakuisisi ladang ladang khutbah ulama moderat dan toleran. Mimbar mimbar altar khutbah mulai berisi seruan permusuhan, kebencian kepada kafir, musyrik laknatulah. Mibar di isi dengan pekikan jihad. Keras dan provokatif.

Beberapa kejadian gesekan antar berbeda agama mulai terlihat. Beberapa tahun lalu konflik pendirian gereja HKBP di Binjai menuai gesekan keras. Muncul perlawanan hingga berujung hadap hadapan antara warga yang diprovokasi kelompok garis keras.

Nah yang paling gress kemarin sekelompok massa FPI di Deli Serang Sumut mendemo penutupan rumah makan khas Suku Karo. Masakan khas daerah yang lahir dari budaya nenek moyang ribuan tahun lalu ini dipaksa tutup. Jika tidak, FPI akan mengambil tindakan tegas menutup paksa. Itu ancamannya kepada pejabat daerah sana.

Sebenarnya isu penutupan rumah makan khas daerah suku Karo Babi Panggang Karo bukanlah tujuan utama. Ini hanya test water dari kelompok anti toleransi untuk mentest water reaksi kelompok muslim dan kristen.

Percikan api yang mereka percikkan ini bukan untuk membakar rumah makan itu, melainkan percikan api ini untuk membangun garis demarkasi antara kelompok mereka dengan kelompok anti mereka.

Garis pembelahan ini akan menjadi barometer mereka mengukur kekuatan dan menyusun rencana lebih besar lagi dengan mimpi mimpi penaklukkan atas basis Sumut yang sulit ditaklukkan kelompok garis keras ini.

Penutupan paksa rumah makan suku khas Karo bukanlah tujuan utama. Tujuan utama mereka adalah membakar Sumut agar terpecah dan menghaancurkan tatanan persaudaraan dan persatuan masyarakat Sumut yang sejak ribuan tahun lalu sudah hidup dalam bhineka tunggal ika.

Kelompok anti toleran dan pemercik bara api ini ingin Sumut meledak seperti Poso sana. Mereka memercikkan kebencian, penghasutan dan permusuhan dengan kata kunci babi panggang karo haram.

Inilah jualan mereka sebenarnya untuk merpersatukan orang orang berpikir pendek dan sempit. Tujuan mereka apalagi kalau bukan untuk merusak nilai nilai keluhuran budaya saling menghormati, menghargai dan gotong royong hidup rukun damai dari semua etnis dan agama yang ada sejak dahulu kala jauh sebelum FPI muncul kemarin sore lalu. Besok besok ketika ancamaan gertakan sambal balado FPI ini berhasil bukan hal yang mustahil tuntutan penegakkan syariat dan lainnya akan mereka desak dan ultimatum.

Tidak ada kata lain bagi kita yang peduli Sumut selain LAWAN!!! LAWAN!! Dan LAWAN!!!

Memberi mereka kesempatan mengubek ubek Sumut sama saja membiarkan api melahap peradaban masyarakat Sumut yang toleran, rukun, dan berbhineka tunggal ika.

Ini Medan Bung!!! Jangan kau pikir kami pengecut!!

Salam BPK
Birgaldo Pria Keren

Sumber: Laman Facebook