Memecah Belah Umat Islam Indonesia Itu Tugas Felix Siauw

Pagi ini saya betul2 kaget membaca posting Ustadz Felix Siauw (UFS). Ustadz, anda boleh saja meyakini satu hal, tp memprovokasi umat dengan disinformasi seperti itu, buat saya sudah sangat offside.

Saya sama sekali ga keberatan kalau anda berpendapat bahwa haram mengucapkan natal. Silakan. Tapi ga perlu anda dramatisir bahwa ketidaksetujuan atas opini anda itu sebagai de-Islamisasi.

Ulama sekaliber Syeikh Ahmed Tayyeb, Syeikh Ali Gomaa, atau Syeikh Yusuf Qaradhawi, mereka berfatwa tentang bolehnya mengucapkan selamat natal. Apa anda berpikir mereka tengah men-deislamisasi umat muslim dunia? Berhentilah menjadi drama queen. Jangan lebay.

Jadi, berhentilah berhalusinasi ustadz.

Ga cuma itu. Anda malah mengkhayal lebih jauh dengan menyebut penguasa takut akan kebangkitan Islam. Ini konspirasi basi yang berulang kali saya dengar sampai bosan, bahkan sejak jaman SBY.
Takut di sebelah mana?

Kalau pemerintah takut akan Islam, kenapa kementerian agama selalu dapat porsi besar dalam anggaran pendidikan di APBN?
Kalau pemerintah takut akan Islam, kenapa NU dan Muhammadiyah semakin membesar dari hari ke hari?
Kalau pemerintah takut akan Islam, kenapa sampai di pelosok desa itu selalu ada masjid, musholla dan pesantren dibangun?

Anda ga perlu menjawab ini karena saya tahu anda ga akan mampu menjawabnya.

Yang negara ini berantas adalah radikalisme dan anti Pancasila.
Yang negara ini lawan adalah gerakan untuk mengganti Pancasila.
Yang negara ini tumpas adalah mereka, "pemberontak" ideologi bangsa dan negara.

Apakah anda pikir ulama, kyai dan ustadz di NU dan Muhammadiyah ga menjalankan Kitabullah dan Sunnah? Mereka bahkan sudah mengaji waktu kita masih belum lahir. Keilmuan mereka tidak lebih rendah dibanding anda.

Jadi, sekali lagi, berhentilah berhalusinasi ustadz.

Karena kami, umat Islam Indonesia, juga menjadikan Islam sebagai acuan perilaku. Dan kami ga pernah disebut intoleran, radikal apalagi ekstrim. Selama ini kami baik2 saja, silakan tanya pada teman2 non muslim kami apakah kami seperti yg anda sebut.

Memang, ada segelintir yg seperti itu. Tp mereka jelas ga mewakili kami, umat Islam. Mereka yg suka berkata kasar, berteriak bunuh, merusak fasum fasos, bertindak di luar hukum dan bahkan hobi mengkafirkan sesama muslim, jelas sekali bukan standar Islam karena Nabi kami ga pernah mengajari seperti itu.

Jadi, lagi-lagi, berhentilah berhalusinasi ustadz.

Kami, umat Islam Indonesia, ga merasa negara ini mengekang kami. Kami bebas mengaji dimana saja dengan ulama manapun.
Kami bebas sholat di masjid atau mushola di penjuru negeri.
Bahkan siapapun bisa bebas mengkritik pemerintah mulai dr sosmed sampai di mimbar masjid dengan speaker yg lantang berbunyi.

Dan anda, sebagai mantan anggota ormas terlarang, bersama rekan lainnya pun, masih dibiarkan bebas berkeliaran tanpa harus ditangkap atau dihukun seperti yg terjadi di banyak negara lain.

Nikmat mana lagi yg tengah anda ingkari di negara dan era ini?

Sekularisasi? Bahkan itu sebuah kemustahilan. Selama sila Ketuhanan masih tetap ada, selama pasal 29 masih bertengger di UUD 1945, selama sumpah jabatan masih memakai kitab suci, selama negara masih menyelenggarakan ibadah haji, selama pemakaian hijab masih bebas, selama itu pula sekularisasi menjadi isu basi yg sudah tidak relevan lagi. Jadi, di sebelah mana pemerintah ingin Indonesia tanpa agama?

Tolong, hentikan propaganda, hasut dan fitnah keji anda ustadz.
Negara dan pemerintah tidak pernah anti Islam sesuai fakta di atas.
Beda dengan anda/kelompok anda, tidak berarti anti Islam karena tidak pernah kami angkat anda sebagai "wakil" Islam. Pahami itu.

Kami, umat Islam Indonesia baik2 saja. Kalaupun ada dinamika karena perbedaan politik atau fiqih di antara kami, itu hal biasa. Kami bisa selesaikan sendiri. Tidak perlu hasut kami, tidak perlu provokasi kami.

Jangan sekali2 anda coba pecah belah kami, umat Islam Indonesia.
Karena kami cinta Islam, NKRI dan Pancasila.

Aldie El Kaezzar

 

Kategori: