Memilah dan Memilih Model Komunikasi Publik

Eep Saefulloh, adalah salah satu otak dibalik semua komunikasi dan grans strategi politik dibalik kemenangan Anies Sandi, dalam Pilkada DKI baru lalu. Eep juga punya peran signifikan dalam memenangkan Jokowi Ahok pada Pilkada DKI sebelumnya, dan pada Pilpres 2014, yang memenangkan pasangan underdog, Jokowi JK. Saya tidak mengatakan hanya Eep lah yang paling berperan, melainkan ia lah salah satunya yang menyiapkan analisa dan mapping untuk mendrive arah dukungan publik kepada pasangan yang dijagokan.

Saat ini kebetulan, Eep tetap berada di posisi mereka. Mereka maksudnya adalah, di kubu yang ingin menjungkalkan Pakde, untuk mulus melanjutkan goodwill politiknya membangun Indonesia sbg Presiden RI.

Secara pribadi, dulu saya sangat mengenal sosok ini. Ia adalah salah seorang teman sekampus dengan saya, dan tidak jarang saya duduk bersebelahan dengannya saat mata kuliah umum fakultas. Secara akademik, Eep memang cukup menonjol, namun saat2 awal perkuliaahan ia belum melihatkan minatnya pada organisasi dan aktivitas politik kampus saat itu.Saya justru mengenalnya sebagai seorang karikatur yang jempolan. Ia jago menggambar karikatur. Tak jarang, ia sibuk membuat karikatur di kertas bukunya saat dosen yang jauh di depan sedang menyajikan materinya.

Saya yang saat itu lebih aktif di kampus, dihadapkan pada sebuah kontestasi pemilihan Ketua Senat sedang mencari calon. Dan Eep kami pilih sbg kandidat kelompok kami, untuk maju sbg salah satu pesertanya. Tak disangka, ia melihatkan kemampuan dan pemaparan strategi yg jempolan baik secara retorika maupun strategi meraih dukungan civitas akdemis di kampus saat itu. Salah satu pendekatan jitu Eep saat itu adalah mengambil simpati dukungan dari rohis Islam yang aktif di mushola kampus. Massa Islam kampus pun seperti terbetot dengan model komunikasi politik kampus ia. Dan singkat cerita, Eep tampil sbg pemenang untuk menjabat sbg Ketua Senat FISIP UI saat itu. Saya ikut memantau kinerja Eep, karena saya duduk sbg salah satu Ketua Bidang di Badan Perwakilan Mahasiswa.

Penggalan peristiwa lebih dari 25 tahun yang lalu tersebut, kiranya masih mewarnai pola pikir dan strategi Eep dalam membangun lembaga polling center miliknya, Polmark.

Identikasi masalah yang dirumuskan Eep sebenarnya sederhana. Pertama, siapa pemilih yang diakui oleh UU? Kedua, seperti apa populasi dan penyebaran geografisnya? karakter pemilih tsb? Ketiga, seperti apa karakter pemilih tsb? Ke empat, dari strata ekonomi dan kelompok sosial dan agama apa mereka? Ke lima, apakah pemilih tersebut terafiliasi langsung dan tidak langsung dengan partai politik, ormas atau kelompok agama tertentu? Ke enam, apakah cukup sumber daya kapital untuk melancarkan model propaganda politik yang akan dijalankannya?? Itulah sejumlah variabel penting yang cermat dan valid datanya, yang ada di kantong Eep saat ini.

Yuuk, kita coba jawab satu persatu variabel yang menjadi formulasi strategi komunikasinya Eep.

Pertama, yang diakui oleh KPU sbg pemilih adalah WNI yg terdaftar sebanyak 196,5 juta jiwa, atau lebih dari 77 % penduduk Indonesia.

Kedua, populasi dan penyebaran geografisnya. Terdiri atas pemilih laki-laki 98.657.761 orang dan perempuan 97.887.875 orang. Mayorutas mereka tersebar di Jawa Barat dengan 33.138.630 pemilih. Disusul Jawa Timur dengan 31.312.285 pemilih, Jawa tengah 27.555.487 pemilih, Sumatera Utara 10.763.893 pemilih, dan DKI Jakarta dengan 7.925.279 pemilih.

Jumlah pemilih ke 4 provinsi tsb adl 110.695754 atau sekitar 56 % dari total jumlah pemilih. Kita bisa bayangkan, jika Jabar, Jateng, Jatim dan Sumut semuanya dimenangkan oleh kubu Gerindra dan PKS pada Pilkada serentak 2018 mendatang. Menyusul DKI Jkt yang sudah diraih mereka, maka posisi pakde secara politik, semakin dipinggir jurang jika realitas ini terbukti menang nantinya.

Ke tiga, karakter pemilih.nya dan ke empat strata ekonomi, sosial dan golongan agamanya. Ke dua variabel ini, saling berkelindan satu sama lain. karena mayoritas pemilih di 4 provinsi tsb, lebih dari 70 persen berasal dari kelas menengah ke bawah dan juga lebih dari 70 %beragama Islam. Lebih cilaka lagi adalah, lebih dari 80 persen, hanya menamatkan pendidikan tingkat dasar dan menengah umum kejuruan.

Tak aneh, sebagian kita menyebut mereka itu adalah bani BoTol, dalam perspektif kita tentunya. Bagi Eep, gak masalah dengan julukan apapun yang kita alamatkan kepada massa pemilih mayoritas tsb. Yang terpenting buat Eep adalah massa mayoritas tsb mampu dan mau digiring terus dengan
Isu2 sektarian yang cantik dikemas oleh tim propaganda nya.

Bagaimana saluran aspirasi politik mayoritas pemilih itu bisa dijaga militansinya, keberpihakkanya dan suara politiknya?? Jawaban nya terkait dengan variabel ke lima, yakni afiliasi partai politik dan ormas yang "memelihara" komunitas besar mereka. Menjadi "blessing" bagi Gerindra, PKS, PAN dan mungkin juga Demokrat, yang mampu memelihara massa mayoritas ini dengan baik.

Yaaa, mereka sebagian besar ada sebagai kader, simpatisan dan orang yang mengaku se iman dengan Gerindra, PKS, PAN, Demokrat dan ormas Islam seperti FPI, GNPF, FUI dan HT yang sekarang bergerak silent di akar rumput.

Ke lima variabel inilah yang membuat Eep optimis mampu memasak menu2 propaganda untuk "membantai" pakde secara komunikasi polittik. Dan saya yakin, pemahaman ini sudah di delivered Eep ke Anies dan Sudirman Said, yang punya dendam politik kepada pakde Jokowi.

Mesin propaganda mereka sangat "workable". Selain didukung oleh sejumlah para cyber seperti Muslim Cyber Army dan tim cyber handal yang dimilik internal Gerindra, Demokrat, PKS, dan PAN, mereka juga banyak mempengaruhi sudut pandang media mainstream yang ada sekarang, baik on line maupun konvensional. Handal karena selain didukung oleh ahli IT mumpuni, juga di back up pembiayaan yang luar biasa berlebih. Pembentukan jaringan sel media sosial mereka begitu berlapis dan sambung menyambung, menyuarakan sang jagoan, dan meng-eliminated petahana yang hanya sibuk kerja, kerja, dan kerja. Kombinasi karakter militan secara ideologis, senasib sepenanggungan karena sama2 uneducated dan miskin, membuat Eep mudah untuk "menggoreng" mereka memenangkan propaganda sang jagoan yang sedang disiapkan.

Makin nyaring mimbar2 Jumatan dan masjid moshola meneriakkan pemimpin islam yang pro rakyat, dan bukan pro asing seperti Jokowi, maka makin berpeluang lah mereka menjungkalkan pakde pada 2019 mendatang.

Pertanyaan penting sekarang bagi kita, apa modal dan kekuataan kita di DDB untuk mampu mengatasi "mapping" hebat yang ada di kepala Eep ini?

Model militansi apa yang akan kita kembangkan untuk meraih 56 % pemilih pasti pada Pilpres 2019 nanti?? Apakah kita terafiliasi secara idiologis dan spirit dengan Golkar, PDIP, Hanura, dan Nasdem dalam membangun kekuatan propaganda ala Eep?

Atau kita mau berpikir linear bahwa kita cukupkan saja model komunikasi politik kita hanya di ruang lingkup DDB grup yang jumlahnya lbh kurang hanya 100 ribu anggota???

Hemat saya, kita perlu mempertimbangkan hal ini dengan masak dan genuine. Tidak bisa hanya dengan modal spirit dan militansi sektoral yangh spektrum nya terbatas, untuk mendorong Pakde Jokowi memuluskan kerjanya dua periiode.

Ada banyak cara sebenarnya untuk memotong dan menggergaji "kemapanan" modul pemenanganan ala Eep ini.Kuncinya adalah perlu konsolidasi besar tim pemenangan pakde secara nasional, regional dan sektoral untuk melapis strategi komunikasi politik ala Eep, yang nota bene selalu diketahui dengan baik oleh Pak JK.

Menyakitkan memang. namun itulah realitas politik saat-saat ini dan di tahun panas 2018 nanti.

Pilihan kita dari memilah milah yang sudah ada dan berjalan sekarang ini adalah clue, untuk orang baik seperti Jokowi masih akan berkiprah atau terhenti hanya satu periode saja.

Tuhan Maha Baik. Namun Tuhan juga tidak dalam dimensi yang statis jika ikhtiar yang tidak kuat, tidak kita wujudkan secara cerdas bersama-sama.

Salam Satu Hati dua periode dari saya, yang bukan siapa-siapa.."JOS"

Kategori: