Pilhan karena Akhlak

Gubernur itu punya anggaran 16 alias anggaran bablas. Mengapa disebut begitu. Itu anggaran biaya penunjang operasional ( BPO). Anggaran ini bebas digunakan oleh Gubernur tanpa ada aturan yang mengikat. Artinya kalau dia pakai untuk pribadinya, itu hak dia.. Contuh gubernur DKI dan Wakilnya, mendapat jatah anggaran sebesar Rp. 4,5 miliar sebulan. Dimana gubernur berhak mendapat Rp 2.100.000.000 dan wakil gubernur berhak mendapat Rp 1.400.000.000 ,dan sisanya di pegang oleh oleh pembantu bendahara. Kalau dikalikan setahun maka yang diterima Gubernur dan wakilnya sebesar Rp 54 miliar. Kalau lima tahun berkuasa maka total jumlahnya mencapai Rp 270 miliar. Enak ya..

Tapi tahukah anda, Jokowi ketika jadi Gubernur, dan juga Ahok tidak menggunakan dana itu untuk pribadinya tapi digunakan untuk membiayai staf team ahli dan team pribadinya diluar struktur Permrof DKI. Bahkan kalau bersisa anggaran itu maka Ahok mengembalikannya kepada kas Daerah. Padahal itu udah jatah dia. Mengapa ? Karena Ahok sadar setiap sen uang yang ada di DKI Itu milik rakyat. Benar rakyat melalui DPRD memberi hak kepada dia tapi hak itu tidak dia gunakan untuk memperkaya diri. Kalau dia menolak maka itu soal pilihan secara spiritual. Dia abaikan standar procedural soal hak itu dan lebih utamakan pesan cinta dari Tuhan kepada dia, bahwa dia harus amanah kepada rakyat, kalau bisa memberi mengapa harus meminta lebih.

Walau Ahok dikatakan kafir oleh sekelompok umat islam tapi Ahok telah melaksanakan standar ajaran islam dimana mengutamakan akhlak dalam berniat dan berbuat. Dengan fakta Anies menolak rekomendasi dari Mendagri soal alokasi anggaran Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan (TGUPP) Provinsi DKI Jakarta agar menggunakan dana BPO, itu membuktikan orang yang dipilih dengan jargon agama tidak otomatis mewakili akhlak yang diajarkan Islam. Salah satu kader PKS saya tanya soal itu, dia jawab enteng, “ Manusia kan bukan malaikat, jadi wajar saja kalau lebih mengutamakan kepentingan pribadinya. Yang penting dia engga korupsi. Dan lagi itu memag hak dia. Salahnya dimana?

Memang Anies tidak salah dan dia telah menentukan pilihan bahwa kekuasaan itu soal uang , dan itu manusiawi, tidak ada pengabdian tanpa uang. Mana ada ustad mau datang tanpa dibayar. Semakin terkenal semakin mahal bayarannya. Itu juga manusiawi. Dan Ahok juga telah bersikap dengan pilihannya bahwa pengabdian itu adalah nilai yang harus diperjuangkan sepanjang usia dihadapan Tuhan. Soal uang bukan ukuran. Saya teringat dengan jenderal di China ketika mengundang saya makan malam. Dia berkata kepada saya," ketika pejabat atau penguasa merasa berhak atas haknya secara formal dan mengabaikan fakta standar moral yang ada, maka saat itu empatinya sudah mati. Dia hanya jadi monster yang kapan saja dia bisa create aturan untuk memperkaya diri dan menggunakan aturan itu berlindung dari kesalahan yang dibuatnya. "

Benar kata Abraham Lincoln “ Nearly all men can stand adversity, but if you want to test a man's character, give him power. Hampir semua orang bisa menghadapi kesengsaraan tapi kalau kamu ingin test karakter seseorang , beri dia kekuasaan” demikian ungkapan Abraham Lincoln. Tak banyak bahkan langka orang bisa lolos test. Jokowi dan Ahok adalah orang sudah lolos test itu..

Pramono Ngajiyopranoto ( Power of sufi )

Kategori: