Presidential Threshold 20% Menjadi Sindiran Prabowo Kepada SBY

Jakarta, PiyunganOnline - Banyak yang tidak berfikir terbalik dengan pernyataannya Prabowo Subianto, hingga yang tidak tahu seolah-olah itu mengkritisi DPR RI atau Presiden Jokowi, padahal itu sindiran halus Prabowo kepada SBY dengan cara mengungkit masalah Presidential Threshold 20%, yang pernah 2 kali dilakukan di Indonesia sejak SBY berkuasa.

Pada saat pertemuan antara Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Merdeka (Gerindra) Prabowo Subianto dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

Hidangan nasi goreng yang menjadi media berdiplomasi, hidangan tersebut disajikan saat Ketua Umum PD SBY untuk Ketum Gerindra Prabowo Subianto, saat melakukan pertemuan di Cikeas, Jawa Barat, Kamis (27/7/2017).

Dua unit gerobak nasi goreng ‘Jatim Ngawi’ disiapkan di halaman rumah SBY. Hidangan tersebut sukses menghangatkan suasana pertemuan kedua pimpinan partai itu sebelum melangsungkan pertemuan tertutup.

Tak hanya SBY dan Prabowo, nasi goreng juga disajikan untuk Waketum Gerindra Fadli Zon, Sekjen Gerindra Ahmad Muzani, Sekjen PD Hinca Panjaitan dan Waketum PD Syarief Hasan. Mereka duduk dalam satu meja dan berbincang hangat serta saling melontarkan tawa.

Nasi goreng yang disajikan dengan harga cukup ekonomis yaitu Rp 12 ribu. Sang pedagang menyiapkan 80 porsi nasi goreng saat pertemuan. “Harganya Rp 12.000,” ujar pedagang nasgor, Sri Hartini.

SBY memilih nasi goreng dengan rasa pedas, sedangkan Prabowo sedikit rasa pedas atau sedang. Seusai pertemuan tertutup, Prabowo memuji nasi goreng yang dihidangkan. Agaknya tak cuma rasa nasi goreng saja, tapi ada pula kritikan ‘pedas’ yang terlontar usai pertemuan mereka.

“Power must not go unchecked. Artinya kami harus memastikan bahwa penggunaan kekuasaan oleh para pemegang kekuasaan tidak melampaui batas, sehingga tidak masuk apa yang disebut abuse of power. Banyak pelajaran di negara ini, manakala penggunaan kekuasaan melampaui batasnya masuk wilayah abuse of power, maka rakyat menggunakan koreksinya sebagai bentuk koreksi kepada negara,” kata SBY.

SBY yang mengaku ‘berpuasa’ politik selama 6 bulan terakhir itu juga berkata dirinya tetap memantau situasi di Indonesia. Dia berpesan agar pemangku kebijakan dapat menggunakan kekuasaan dengan amanah.

Setelah itu giliran Prabowo yang menyampaikan pandangannya. Prabowo menyampaikan soal presidential threshold 20% yang menurutnya lelucon politik.

“Presidential threshold 20 persen lelucon politik yang menipu rakyat Indonesia, saya tak mau terlibat,” kata Prabowo.

Tapi selain kritikan yang cukup pedas itu, Prabowo juga sempat berkelakar. Ia mengaku bahwa nasi goreng adalah makanan kesukaannya yang diungkap oleh SBY lewat ‘kerja intelijen’.

“Intelijen Pak SBY masih kuat, bisa tahu kelemahan Pak Prabowo di nasi goreng. Asal dikasih nasi goreng pasti setuju saja,” ungkap Prabowo dengan canda.

Berkat nasi goreng itulah SBY dan Prabowo sepakat menjalin kerja sama. Mereka sepakat bekerja sama tanpa harus membentuk koalisi.

“Meskipun tidak dalam bentuk koalisi karena kita kenal Koalisi Indonesia Hebat (KIH), Koalisi Merah Putih (KMP) pun sudah mengalami pergeseran dan perubahan fundamental. Karena itu kami memilih tidak perlu membentuk koalisi, yang penting kita meningkatkan komunikasi dan kerja sama,” kata SBY.

SBY dan Prabowo Subianto dalam menjalin kerjasamanya itu tetap penuh intrik licik, karena keduanya ada dendam politik selama ini, jadi bila terjadi koalisi akan penuh pertarungan di dalam walau dalam kemenangan kelak.

Kategori: