Strategi ISIS dalam Membusukkan Islam

Beberapa tahun yang lalu, kita hanya dihadapkan pada penyesatan atau tafsir buruk terhadap arti jihad. Jihad yang berarti berjuang diidentikkan dengan aksi teror, bom bunuh diri dan pembunuhan. Sehingga kata jihad yang sebenarnya sangat suci dan sakral bagi ummat Islam, sekarang sudah diartikan dengan sangat buruk sekali.

Sehingga kalau kalian bertemu dengan nonmuslim yang memiliki trauma terhadap penyerangan atau korban bom bunuh diri, mereka pasti sulit untuk menerima bahwa kata jihad sebenarnya tidak buruk dan tidak menyuruh orang untuk meledakkan diri.

Jihad yang sebenarnya berarti berjuang di jalan Allah, seperti bekerja mencari nafkah, belajar, atau semua tindakan positif yang memerlukan perjuangan, kini hanya dipahami bahwa jihad adalah bom bunuh diri. Sehingga saat ini, tidak ada satupun pimpinan negara di bumi ini, yang berani menyinggung atau menggunakan kata jihad, sekalipun untuk sebuah tindakan dan program yang positif dan produktif. Sebab jihad di mata dunia global adalah bom bunuh diri, radikal, teror dan sejenisnya.

Setelah jihad, kalimat tauhid “lailaha illallah, muhammad rasulullah” pun menjadi sasaran dan korban selanjutnya. ISIS menggunakan kalimat tauhid tersebut sebagai bendera pergerakannya. Mereka menyembelih anak kecil dan rakyat yang tidak berdaya. Meledakkan bom bunuh diri menyerang aparat keamanan dan masyarakat awam yang sebagian besarnya juga muslim.

Kalimat tauhid ini jauh lebih sakral dari kata jihad. Sebab merupakan bagian dari syahadat, sebagai syarat wajib bagi setiap orang yang mau memeluk agama Islam. Sehingga kini kalau ada orang mau masuk islam, bendara ISIS tersebut merupakan salah satu faktor yang dapat menggoyahkan keimanan atau kepercayaan mereka. “kok saya mau mengatakan kalimat yang sama dengan bendera ISIS teroris?”

Kalimat tauhid dan jihad yang kini dicitrakan sangat buruk, sebenarnya merupakan bagian dari agenda propaganda internasional. Pembusukan ini terjadi lintas negara. Saat ada bom, hampir semuanya adalah ulah ISIS. Dan kelompok teroris itu dengan liciknya mengatakan bahwa mereka sedang berjihad.

Disebut licik karena dengan menggunakan istilah-istilah islami, mereka para teroris dan penjahat ini bisa berlindung di balik agama Islam. Sehingga kalau ada orang yang mau menyalahkan, mereka kemudian dihantam dan dicitrakan seolah-olah sedang melawan Islam. Kelompok nonmuslim pasti benci sekali dengan teroris ini, sebagian juga akan membenci Islam. Sementara muslim sulit untuk membantah bahwa jihad atau kalimat tauhid itu bukan bagian dari agama Islam. Sebab sejatinya jihad dan kalimat tauhid memang kata atau kalimat sakral bagi ummat muslim. Hanya saja artinya bukan seperti yang ditunjukkan oleh ISIS dan kelompoknya. Sudah menyimpang. Sehingga beberapa hal yang berkaitan dengan Islam jadi terlihat buruk.

Doa, khutbah, pengantin, ulama

Di Indonesia, strategi propaganda terhadap agama Islam melalui pembusukan dari dalam -dengan mencitrakan buruk hal-hal yang sakrak dan sangat berkaitan dengan Islam- pun sedang trending dalam kancah politik nasional.

Belakangan, doa dan khutbah sudah digunakan untuk menyerang lawan politik. Nyinyir. Gayanya saja sedang berdoa atau khutbah, padahal itu hanyalah cara untuk menyerang tanpa mau diklarifikasi atau dibantah. Ini sama saja seperti jihad dan kalimat tauhid yang digunakan untuk melakukan terorisme, tanpa mau disalahkan. Jika kita menyalahkan atau mengkritik, maka dengan mudahnya kita akan dicap sebagai anti Islam dan sebagainya.

Begitu juga dengan ulama. Ada orang yang kerap mencaci dan mengajak orang untuk membunuh sesama manusia, kemudian dilabeli sebagai ulama. Ujaran kebencian, penghinaan terhadap Pancasila, fitnah terhadap BI, sampai kasus pornografi telah menjeratnya. Tapi kita pun tidak bisa menyalahkan atau mengkritisinya, karena nantinya kita secara otomatis disebut sebagai penista ulama, anti Islam, dan lebih buruk dari itu akan diserang oleh jemaahnya dengan teror-teror kampungan.

Khutbah dan doa sebagai momen sakral untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, secara tidak disadari kini sudah mulai ternista. Banyak orang mulai tidak suka mendengar doa, karena isinya adalah orasi politik. Di Jakarta, di beberapa masjid sudah berhasil membuat jamaahnya terganggu saat shalat jumat, atau bahkan tidak jadi shalat.

Lalu yang terakhir adalah pengantin. Sejatinya pengantin digunakan untuk dua orang manusia yang menikah. Pernikahan sendiri merupakan peristiwa yang juga sangat sakral, penting dalam catatan kehidupan manusia. Tapi sekarang mulai dicitrakan negatif, dan bukan tidak mungkin kalau dua tiga tahun lagi, kita pun akan berpikir ulang untuk menggunakan kata “pengantin.”

Kita semua menyadari dan mengakui bahwa penggunaan momen doa dan khutbah cukup berhasil mempengaruhi serta menarik simpati massa, demi mencapai kekuasaan yang diinginkan. Namun entah apakah mereka para politisi ini mampu mengendalikan sesuatu yang mereka tunggangi? itu yang saya ragukan. Begitulah kura-kura.

 

Oleh : N
Analyst, Pemikir, Pakar Mantan dan Spesialis Titik-titik 

Kategori: