Tolak Radikalisme dengan Nasionalisme.

Beberapa tahun belakangan ini gerakan radikal berkedok agama di Indonesia semakin menguat dan mencapai puncaknya pada pemilihan kepala daerah lalu yang terjadi di Jakarta.

Istilah-istilah tajam yang merendahkan seperti kafir dan munafik kerap dilontarkan hanya karena perbedaan pilihan politik. Isu-isu sektarian yang sebelumnya tidak pernah muncul karena dinilai sensitif, kini justru mengemuka.

Ini tampak dari semakin menguatnya intoleransi dan fundamentalisme antar umat beragama.

Dalam sejarah Indonesia memang selalu ada usaha untuk mengganti Pancasila dengan ideologi lain tapi belum pernah sedrastis sekarang ini dimana upaya itu berlangsung secara kasat mata.

Awalnya gerakan radikalisme ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap komunisme di Indonesia. Namun ironisnya kini berbalik melakukan perlawanan terhadap penerapan Pancasila sebagai asas Tunggal dalam politik.

Menguatnya gerakan radikal berkedok agama di Indonesia seakan menunjukkan lemahnya penegakan hukum oleh aparat. Selain itu, dua organisasi agama terbesar di Indonesia, Nadlatul Ulama dan Muhammadiyah, pun seakan tidak berdaya menghadapinya..

Bersekongkolnya para pemodal dengan elit-elit politik yang membiayai aksi-aksi demonstrasi berjilid kaum radikal demi menutupi kasus-kasus mega-korupsi pun turut memperburuk situasi.

Mantan ketua PP Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Maarif menilai menguatnya gerakan radikal di Indonesia beberapa tahun terakhir ini sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan.

Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia dapat terpecah belah.

"Suriah sudah hancur, Irak sudah hancur, Libya juga, Mesir juga nggak karuan. Kita boleh menyalahkan Amerika, menyalahkan Barat, tetapi paham-paham radikal ini bisa masuk ke dalam karena keadaan masyarakatnya rapuh dari dalam," kata Maarif.

Buya Maarif menyebut ideologi radikal sebagai teologi maut, yakni ajaran yang mengajarkan untuk mengejar mati karena tidak berani hidup.

Selain itu, ajaran ini juga memonopoli kebenaran, artinya siapapun yang ada di luar barisan mereka adalah salah, dan halal darahnya.

Gerakan radikal berkedok agama di Indonesia saat ini memiliki ciri memaksakan paham anti-demokrasi, anti-keberagaman, anti-Pancasila, bahkan anti-NKRI. Mereka menyebut semua itu dengan satu istilah yaitu “thagut” atau “sesat”.

Bagi Kaum radikalis agama, sistem demokrasi pancasila itu dianggap haram hukumnya dan pemerintah di dalamnya adalah kafir taghut (istilah bahasa arab yang merujuk pada “setan”), begitu pula masyarakat sipil yang bukan termasuk golongan mereka.

Oleh sebab itu bersama kelompoknya, kaum ini menggaungkan formalisasi syariah sebagai solusi dalam kehidupan bernegara.

Mereka juga menilai Negara Pancasila sebagai negara gagal sehingga ingin mendirikan format baru yaitu negara khilafah.

Belajar pada kasus Taliban di Afghanistan, Boko Haram di Nigeria, ISIS di Irak dan Suriah, awalnya mereka hanyalah gerakan radikalisme kecil dan tidak diperhitungkan.

Namun karena mayoritas masyarakatnya cenderung bersikap diam, tidak peduli dan bahkan takut, maka mereka memperoleh peluang untuk berkembang besar dan akhirnya menjatuhkan pemerintah yang sah.

Ideologi radikal ini ada dalam semua agama dan tidak hanya dalam agama Islam. Ideologi radikal ini sangat berbahaya karena membawa ‘’virus’’ kebencian, permusuhan dan intoleransi.

Oleh karenanya mari kita jaga persatuan negeri ini.

Tolak Radikalisme dengan Nasionalisme.

Winston Zippi Johannes

Kategori: