Islam Radikal

NU Mendesak Presiden Jokowi Untuk Pembubaran Ormas Radikal

Jakarta, PiyunganOnline - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dimanfaatkan NU untuk legitimasi pembubaran ormas yang dituding radikal. Sebab selama ini tidak ada Presiden yang berani melakukan pembubaran ormas-ormas radikal tersebut yang sering berakibat Islam malah dikambinghitamkan. “Setelah bertemu Presiden Jokowi di Istana, Kiai Said Aqil langsung mengatakan, Presiden segera mengeluarkan Perppu pembubaran ormas radikal. Artinya Presiden Jokowi dimanfaatkan NU untuk legitimasi pembubaran ormas radikal,” kata beberapa pengamat politik yang tertuang di banyak media itu.

Darurat Paham Radikal, Keluarga Harus Jadi Penangkal

Saya punya teman yang cukup dekat dan sudah dianggap keluarga sendiri. Sejak ibunya meninggal, ia pindah ke kota lain sehingga kami jarang bertatap muka. Beberapa tahun kemudian, kabar kurang baik mengangetkan saya: teman saya tersebut di-drop out oleh kampusnya gara-gara tidak aktif mengikuti perkuliahan. Nilainya pun di bawah rata-rata. Menurut ayahnya, ia sering mengikuti pengajian kelompok tertentu hingga ke luar negeri, seperti Malaysia, Thailand (Pattani), dan Pakistan. 

Organisasi Islam Dunia Pertanyakan Lisensi FPI Mengatasnamakan Islam

Organisasi Konferensi Islam (OKI) yang merupakan perhimpunan negara-negara Islam, angkat bicara mengenai organisasi yang mengatasnamakan Islam beberapa kali memakai tindakan yang dinilai represif, seperti Front Pembela Islam (FPI).

OKI mempertanyakan dari mana lisensi dan izin organisasi masyarakat yang mengatasnamakan Islam seperti itu?

Percuma HTI Dibubarkan. FPI, FUI, GNPF MUI dan Sejenisnya Dibiarkan

Menko Polhukam Wiranto mengumumkan pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia yang dianggap bertentangan dengan Pancasila dan UUD 45 serta menciptakan benturan di masyarakat.

“Pertama, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak mengambil peran positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional,” lanjut Wiranto.

PKI Adalah Harga Mati Hizbut Tahrir

April lalu bisa jadi menjadi waktu yang mengecewakan bagi sebagian pengurus Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Mereka tak mengantongi izin dari kepolisian untuk acara internasional yang semula akan digelar di Balai Sudirman, Jakarta Selatan. Nama acara itu adalah International Khilafah Forum.

Acara itu mengusung tema 'Khilafah Kewajiban Syar’i Jalan Kebangkitan Umat’.

Tak dapat izin di Jakarta, acara pun akan dipindahkan ke Sentul, Bogor, Jawa Barat. Tepatnya di Masjid Az-Zikra milik penceramah agama Arifin Ilhan. Namun, izin pun lagi-lagi batal didapatkan. 

Islam Tidak Mengancam Kebhinnekaan

Isu "mengancam keberagaman (kebhinnekaan)" mencuat kembali ketika umat Islam menuntut penyelesaian kasus penistaan agama oleh Ahok. Namun saat kaum muslim menuntut keadilan atas kedzoliman yang menimpanya, umat “dipaksa” untuk menerima & memaafkan atas ketidakadilan dan kedzoliman yang menimpa mereka. Kondisi tersebut terjadi dan selalu berulang dengan alasan untuk mempertahankan kebhinnekaan/keberagaman yang ada di tanah air.

Waspadalah! PKI Modern Itu Melarang Mensholatkan Jenazah

Saya kehabisan kata. Benar seperti yang pernah dikatakan oleh Nabi Muhammad, diakhir zaman umatnya akan banyak, tapi bak buih dilautan. Tak berguna, tak ada ilmunya. 

Pilkada DKI benar benar menunjukkan nafsu duniawi. Gerombolan berbalut sorban dan gamis, meneriakkan nama Allah tapi menebarkan fitnah dan teror dengan berlindung dibalik ayat Allah. Massa yang tidak paham ilmu agama, membebek pada ulama suu', ulama jahat.

Bahaya Paham Wahabi yang Makin Gencar

Putra KH Abdul Wahab Chasbullah salah seorang pendiri NU, KH Abdul Wahab Chasbullah mengingatkan bahaya paham Wahabi yang semakin gencar melakukan propaganda melalui sejumlah kanal media.

Peringatan tersebut disampaikan Gus Hasib saat membuka kegiatan Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD)  Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Jombang di Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu (11/3).

Ketum PBNU: Semua Orang Ingin Hidup Damai, Hanya Kelompok Kecil yang Radikal

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi, semakin maraknya Radikalisme menjadi pekerjaan bersama dalam menangkalnya. Komitmen bersama ini harus terus dihadirkan agar Islam ramah dan moderat tetap menjadi ruh beragama jutaan Muslim di Indonesia.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menegaskan, sudah seharusnya umat Islam terus mewarnai dunia dengan wajah Islam yang mengajak kepada kebaikan dan kesejukan dalam berperilaku.

Menelanjangi Gerakan Islam Radikal Di Indonesia

Walau sudah lama terbit secara terbatas, buku "Ilusi Negara Islam" adalah salah satu buku “berani” yang wajib kita baca dan pahami. Karena buku ini adalah sebuah buku yang menelanjangi gerakan-gerakan Islam radikal yang bersifat transnasional yang menyusup disetiap sendi bangsa ini, mulai dari institusi paling kecil seperti masjid-masjid di daerah, institusi pendidikan yang paling rendah sampai tertinggi, dan lembaga pemerintahan yang merumuskan perda-perda syariah diberbagai daerah.

Pages