Kompasiana

Jokowi Disasar Kudeta, Gatot Offside, Kalla Bermain Api

Sejak menjadi Presiden, Jokowi memang sasaran empuk untuk dikudeta. Jokowi yang berlatar belakang sipil, dipandang remeh lawan-lawannya. Di kalangan militer, Jokowi dihargai karena kejujuran dan kesederhanaannya. Namun ia bukanlah sosok yang disegani, apalagi ditakuti. Jejak menakutkan Jokowi ala Duterte misalnya, tak ditemukan.

Citra Ulama Dipertaruhkan Dengan Berita Perselingkuhan Habib Rizieq

Sejujurnya saya berharap apa yang beredar di Media Sosial (medsos) terkait perselingkuhan Rizieq Shihab sebagai hoax. Artinya tidak benar. Bagaimanapun status Rizieq sebagai sosok yang dianggap ulama bila namanya tercemari akan terasakan juga bagi ulama lainnya. Seperti kata pepatah nila setitik rusak susu sebelanga. Semua komponen ulama, termasuk aktivis akan terkena dampaknya.

Pesan untuk Presiden Jokowi Atas Tewasnya Teroris Santoso

Santoso berhasil ditewaskan. Tewasnya pentolan teroris Santoso alias Abu Wardah oleh operasi gabungan TNI-Densus 88 mendorong efektivitas kerja sama TNI-Polri dalam memberantas korupsi. Kini penguatan dilakukan dengan kewenangan TNI untuk melakukan tindakan. Namun, isu kerja sama ini berhasil menutupi pasal krusial, yakni prinsip actus reus dan mens rea (menindak dengan tanpa kecukupan alat bukti) dalam revisi UU Terorisme. Indonesia dan Presiden Jokowi dalam hal UU Terorisme musti belajar dari Internal Security Act (ISA) Singapura dan the Security Offences (Special Measures) Act Malaysia.

Jokowi Melawan Bandit-Bandit Listrik

"Politik Bukanlah Sekedar Soal Kekuasaan, tapi soal keseharian rakyat yang nyata di depan matanya" 

Adagium politik Jokowi sebenarnya adalah "penyederhanaan persoalan-persoalan politik", ia membawa politik bukan lagi menjadi "persaingan dewa dewa langit, tapi menjadi 'persoalan keseharian', keterlibatan rakyat, partisipasi rakyat, kejelasan dan paparan yang terbuka soal persoalan persoalan yang membawa dampak ke masyarakat luas, selalu jadi perhatian utamanya. 

Indonesia Siap Jadi Negara Khilafah, Sesuai Konsep Khalifah

Menjadi hal yang tidak bias dibantah dan ditawar lagi, bahwa Indonesia mempunyai banyak suku, budaya dan bahasa. Tidak bias dibantah pula, kalau Indonesia merupakan Negara kesatuan, yang  terdiri dari beribu pulau. Satu nusa satu bangsa. Karena mempunyai kesamaan tekad, agar bias lepas dari penjajahan ketika itu, berbagai suku itu bersatu tanpa melihat adanya perbedaan. Ketika mereka sudah merdeka, mereka pun sepakat untuk membentuk sebuah bangsa. Mereka sepakat membentuk dasar negara. Perbedaan itu justru menjadi sumber kekuatan, bukan menjadi sumber perpecahan.

Hati-hatilah Pada HMI

Diskursus mengenai kasus yang melibatkan HMI dengan Pak Thony Saut Situmorang (kedepannya saya menyebutnya: pak saut), wakil ketua kpk cukup mengemuka akhir-akhir ini. Sekali lagi, ini bukan antara HMI dan KPK, melainkan antara HMI dan pak saut sebagai pribadi meskipun pada diri beliau melekat posisi wakil ketua kpk. Jadi jangan artikan atau terjebak pada frame HMI vs KPK. Tapi HMI vs Pak Saut. 

Hati-hati Lambang Palu Arit Komunisme Ada Hukumnya

Marak Lambang Palu Arit, Apakah Salah?

Suatu hari, ada akun yang menggunaan gambar palu arit, kami berdiskusi berdasar ST alias dasarnya sok tahu. Diskusi lama yang berkutat pada asumsi pribadi di mana soal ranah rasa masih banyak yang sensi, merasa bahwa melanggar hukum namun tanpa tahu apa, ada pula yang menyatakan tidak elok karena masih banyak yang merasa menjadi korban.

Aura Ahok Lolos dari Jeratan Hukum

Meskipun saat ini seolah-olah sedang menghadapi banyak cobaan dan tekanan hukum yang bisa menjerat dan menghalangi laju perjalanan Ahok, namun subjektifitas saya meyakini Ahok bakalan tetap lolos dari semua jebakan dan potensi jeratan hukum yang sedang dan masih akan dihadapinya itu. 

Ahok Bukan Politikus Basi, Sudahlah FPI, Mending Mengaji Saja

Oleh :  Asep Bahtiar Pandeglang

FPI bertemu dengan wakil ketua KPK Saut Aritonang yang membicarakan dan mendesak KPK agar menangkap dan menjebloskan Ahok ke dalam penjara karena menurut mereka, Ahok telah tersangkut tiga kasus yang merugikan negara termasuk tiga blok apartemen, Trans Jakarta, dan pengadaan tanah untuk rumah sakit Sumber Waras.

“Tangkap Ahok segera. KPK harus bekerja. Tangkap Ahok dalam kasus RS Sumber Waras dan reklamasi Teluk Jakarta,” (Ketua FPI Habib Rizieq).

Kompasianer Iramawati Oemar Bakal Terjerat Pasal Penghinaan?

Kompasianer Iramawati Oemar penulis di Kompasiana ini terancam menyusul Dr Yulianus Paonganan di penjara. Apa pasal sehingga Iramawati yang pernah menghina undangan makan siang ke istana ini bisa terjerat kasus hukum?

Ternyata gara-gara Iramawati menshare berita di situs yang tidak jelas keberadaannya. Seorang netizen lain yang bernama Rizky Dwinanto sempat mencapturenya sebelum Iramawati Oemar menghapus statusnya tersebut.

Pages